Oh Sukabumi... Waktu itu tahun 2008 saat saya baru saja
menjadi mahasiswa semester satu sebuah perguruan tinggi komputer terkenal di
Depok (di sebelah sebuah universitas negeri beken). Seluruh mahasiswa baru
ketika itu diwajibkan ikut kegiatan Jambore dan Bakti Sosial (Jambaksos) yang
diadakan di sebuah areal perkemahan di daerah Sukabumi, Jawa Barat. Pada hari
yang ditentukan, siang hari kami semua bersiap-siap di kampus tercinta,
kemudian segera diberangkatkan dengan menggunakan beberapa truk bak terbuka.
Setelah menempuh perjalanan lebih kurang tiga sampai empat jam, diakibatkan ada
salah satu truk yang salah jalan sehingga semua truk lain harus diam menunggu
sejenak di suatu tempat, akhirnya kami tiba di tempat tujuan kami. Hari sudah
mulai gelap. Kulihat sekeliling kami. Uh, seram juga. Suasana sunyi dan gelap,
maklum di daerah pegunungan yang tidak terlalu banyak penduduknya.
Yang terdengar hanya suara mesin diesel truk yang cukup
berisik. Akhirnya dengan konvoi truk satu persatu, kamu menuju tempat terbuka
sebagai tempat parkir truk-truk yang kami tumpangi tersebut. Sudah sampai?,
Belum! Kami masih harus berjalan kaki lagi beberapa jauh melalui jalan setapak
untuk mencapai tempat di mana kami akan mendirikan tenda-tenda kami. Jam sudah
menunjukkan pukul tujuh malam saat kami memasuki areal perkemahan. Wah!
Ternyata areal perkemahan sudah diterangi oleh beberapa lampu sorot yang cukup
besar kekuatannya, yang sudah disiapkan oleh tim panitia yang telah mendahului
kami ke sana satu hari sebelumnya. Mereka juga telah mendirikan dua buah MCK darurat.
Satu khusus cewek dan satu khusus cowok.
Dengan tubuh sedikit letih akibat perjalanan yang cukup
jauh, kami pun mendirikan tenda masing-masing dengan bimbingan beberapa orang
panitia. Satu tenda diisi oleh satu grup yang terdiri dari empat sampai lima
orang. Cewek dan cowok pisah tenda. Katanya sih, takut terjadi hal-hal yang
tidak diinginkan! Saya memang sial, grup saya semuanya terdiri dari anak-anak
yang belum saya kenal. Saya memang orangnya pemalu dan agak penakut, sehingga
kurang cepat dalam bergaul. Setelah makan malam dan sedikit waktu istirahat,
diadakan briefing mengenai jadwal kegiatan Jambaksos di hari-hari berikutnya.
Briefing inilah satu-satunya acara yang diadakan pada hari pertama itu. Tengah
mengikuti briefing, tiba-tiba saya merasa ingin pipis. Saya ragu-ragu untuk
turun ke MCK yang didirikan di tepi sungai yang mengalir dekat perkemahan kami.
Saya yang memang dasar penakut, urung ke MCK tersebut. Habis jalan ke sana
cukup jauh lagipula gelap sekali.
Sementara untuk meminta dampingan salah seorang panitia malu
rasanya. Akhirnya saya putuskan pergi ke balik semak yang sekelilingnya sepi
dan agak tersembunyi serta agak jauh dari kerumunan orang-orang yang sedang
mengikuti briefing. Ah.., Lega rasanya setelah saya mengeluarkan seluruh isi kandung
kemih saya. Mungkin kalau ditampung di botol, setengah liter ada. Saya memang
menahan pipis dari waktu masih di daerah Bogor saat perjalanan menuju kemari.
Apalagi ditunjang oleh dinginnya udara pegunungan di sini sampai ke sumsum
tulang. "Hi hi hi hi.., Hei, ngapain kamu di situ?!" Tampak dua orang
panitia datang ke arah saya sambil cengengesan. Saya mengenal mereka, yang satu
namanya Alfa (bukan nama sebenarnya), yang rambutnya sepundaknya sedikit
kecoklatan, sedangkan yang rambutnya hitam pekat dipotong pendek adalah Pratiwi
(juga bukan nama sebenarnya). Kedua-duanya tinggi tubuhnya hampir sama.
Sama-sama cantik dan sama-sama sensual. Payudara merekapun termasuk berukuran
besar dan membulat, dengan milik Pratiwi sedikit lebih besar ketimbang milik Alfa.
Ini kelihatan dari balik kaus oblong cukup ketat yang mereka kenakan. Mereka
berdua adalah anggota seksi P3K.
"Saya.., saya
lagi buang air, Kak", jawab saya dengan takut-takut. Tapi Alfa dan Pratiwi
malah mendekati dan melompat turun ke tempat persembunyian saya yang letaknya
sedikit di bawah areal perkemahan itu. "Kenapa kamu pipis di sini, hah?,
Bukannya kita sudah punya MCK sendiri di sana?", tanya Alfa. "Habis,
saya takut, Kak." Saya masukkan penis saya dan saya naikkan kait retsleting
celana saya. Alfa dan Pratiwi tertawa melihat perbuatan saya. "Eit! Ini
garasi jangan ditutup dulu", kata Pratiwi sambil meremas selangkangan
saya. Ouch! Kemudian tangannya membuka kembali retsleting yang sempat saya
tutup. "Wow! Fa, lihat, doi nggak pake celana dalam!", Saya memang
jarang mengenakan celana dalam bila pergi ke mana-mana. "Mana, Wi? Gue mau
lihat", sahut Alfa mendekati selangkangan saya. Pratiwi memberi tempat
kepada Alfa. Alfa memasukkan tangan kanannya ke dalam celah ritsluiting saya.
Dia mengelus-ngelus senjata saya dengan tangannya yang hangat, membuat saya
mulai menggelinjang menahan nikmat. "Wi, doi belum disunat! Kamu pernah
main sama penis yang belum disunat?", Alfa mengeluarkan penis saya dari
dalam sangkarnya. Pratiwi hanya mengangkat bahunya saja. "Eh, Oom Senang.
Ini hukuman kamu karena sudah buang air sembarangan! Sekarang kamu diam aja
yah!", kata Alfa sedikit melotot. Alfa mendekatkan penis saya ke mulutnya.
Beberapa detik kemudian mulutnya telah asyik melumat penis saya. Ah, penis saya
itu semakin mengeras. Ini menambah keasyikan tersendiri bagi Alfa yang terus
mengulum penis saya yang meskipun tidak terlalu panjang namun berdiameter cukup
besar.
Mata saya hampir mencelat keluar sewaktu Alfa
menjilat-jilati ujung penis saya yang tegang menjulang. Gelitikkan lidahnya
yang nikmat mulai membangkitkan gairah birahi saya yang selama ini terpendam.
"Fa! Bagi dong gue! Jangan kamu habisin sendiri!", Pratiwi tidak mau
kalah. Ia mengarahkan tangannya ke belakang pinggang saya, lalu dipelorotkannya
celana panjang saya ke bawah sehingga menampakkan penis saya yang tampak sudah
siap tempur. Dinginnya udara malam yang menusuk kulit paha saya yang telanjang
tidak terasa, terhapus oleh kenikmatan yang sedang saya alami di selangkangan
saya. Kemudian Pratiwi mendekatkan bibirnya yang ranum dengan sapuan lipstik
tipis ke penis saya. Lalu dengan lahapnya mereka berdua menguasai penis saya
dengan kuluman dan jilatan lidah mereka yang bertubi-tubi, membuat tubuh saya
seperti tersentak-sentak merasakan kenikmatan yang aduhai ini. "aah..,
Kak.., saya sudah mau keluar..", kata saya mendesah-desah.
Tapi Alfa dan Pratiwi
tidak mempedulikannya. Mereka masih asyik menjelajahi seluruh permukaan
selangkangan saya dengan mulut dan lidah mereka yang seperti ular. Akhirnya dengan
dua-tiga kali kedutan, saya memuntahkan seluruh cairan kental isi penis saya ke
wajah Alfa. "Ma.. Maaf, Kak. Saya nggak sengaja." Alfa bukannya marah
melainkan malah tersenyum senang. Dijilatinya air mani saya yang ada di
wajahnya. Mengetahui bahwa dirinya tidak kebagian cairan nikmat saya, Pratiwi
menjulur-julurkan lidahnya ke arah wajah Alfa. Ia ikut menjilat-jilati wajah
Alfa seperti meminta bagian. Alfa tampaknya mengalah. Tiba-tiba bibirnya yang
merah merekah mencium bibir Pratiwi. Dan Pratiwi pun membalasnya. Sementara
tangannya mulai meremas-remas dua tonjolan bulat yang ada di dada Alfa.
"Ah.. Wi.. Terusin.. Ah.." Persetujuan Alfa ini membuat Pratiwi
melanjutkan kegiatannya. Ia melepaskan kaus oblong yang dikenakan Alfa.
Kemudian tangan kirinya diselipkan ke balik BH Alfa yang berwarna putih.
Diremas-remasnya payudara mulus Alfa yang bulat membusung. Sesudah itu
tangannya beralih ke punggung Alfa.
Dibukanya pengikat BH
Alfa. Dan tak terhalangi lagi payudara Alfa yang indah seperti buah mangga harumanis
yang ranum, dengan puting susunya yang tinggi menjulang menggemaskan dikeliling
oleh lingkaran kemerahan yang cukup lebar. Tanpa mau melepaskan kesempatan emas
ini, mulut Pratiwi langsung melumat puting susu Alfa yang mulai menegang.
Dengan lidahnya yang menjulur-julur seperti ular, dijilatinya ujung puting susu
yang menggairahkan itu. Sekali-sekali disedotnya puting susu itu, membuat mata
Alfa mendelik kenikmatan. Melihat perbuatan kedua senior saya itu, tak saya
sadari, penis saya yang tadi sudah loyo bangkit kembali dan semakin mengeras.
Sekonyong-konyong Alfa melepaskan diri dari jamahan Pratiwi. Ia memandangi
temannya dengan wajah seperti memohon. Pratiwi pun memahami apa maksud Alfa. Ia
menanggalkan semua pakaian yang dikenakannya, lalu merebahkan tubuh bugilnya
yang mulus di rumput dengan beralaskan pakaian yang telah dilepasnya tadi.
Mulut Alfa langsung menyergap payudara Pratiwi yang berukuran besar laksana
buah pepaya bangkok tapi tampak kenyal dan kencang. Lidahnya menjelajahi setiap
inci bagian payudara temannya yang memang indah dan membusung itu, termasuk
celah-celah yang membelah kedua bukit kembar dengan ujungnya yang mencuat
tinggi itu. Dengan mahir Alfa menggesek-gesekkan ujung lidahnya yang basah ke
ujung puting susu Pratiwi yang tinggi dan keras, membuat Pratiwi menggerinjal
keras sementara mulutnya mendesis-desis bak ular yang siap menerkam mangsanya.
Sementara tangan kirinya menelusuri selangkangan Pratiwi.
Ia mempermainkan
clitoris memerah yang ada di bibir vagina Pratiwi. Diusap-usapnya daging kecil
pembawa nikmat itu dengan halusnya dengan jari tengahnya. Diimbangi dengan
gerakan naik-turun pantat Pratiwi yang bahenol itu. Kemudian dengan sekali
gerakan, Alfa menyodokkan jari telunjuk, jari tengah, dan jari manisnya
sekaligus ke dalam vagina Pratiwi, membuat tubuh temannya ini terhentak keras
ke atas. Pratiwi tampak memejamkan matanya merasakan kenikmatan yang tidak bisa
ditandingi oleh apapun di dunia ini ketika Alfa memainkan ketiga jarinya itu
masuk-keluar vagina Pratiwi, makin lama makin cepat. Menyaksikan pemandangan
yang indah ini, insting kelaki-lakian saya mendorong saya menghampiri kedua
cewek yang tengah dilanda nafsu birahi itu. Dengan sedikit rasa takut dan
ragu-ragu, saya pegang pinggang Alfa. Setelah menyadari tidak adanya penolakan,
membuat rasa keberanian saya timbul, ditambah oleh rasa aneh di selangkangan
saya yang sudah minta untuk dilampiaskan. Saya membuka retsleting celana
panjang Alfa kemudian saya turunkan celana panjang itu berikut celana dalam
yang dipakainya sampai sebatas mata kaki. Seketika itu juga tercium aroma khas
nan segar dari selangkangan Alfa yang terpampang bebas. Tanpa menunda-nunda
lagi, saya segera menghunjamkan penis saya ke dalam vagina Alfa dengan keras
dari belakang, membuat cewek itu menjerit kecil, "Ouuhh.."
"Ah.., terusin.., lebih kencang.., lebih dalam..,. Ouhh..",
Desah-desahan penuh kenikmatan dari Alfa membuat saya tambah bernafsu. Saya
semakin mempertinggi intensitas masuk-keluarnya gerakan penis saya di dalam vagina
Alfa, mengakibatkan tubuh molek gadis itu berguncang-guncang dengan keras.
Kedua payudaranya yang menggantung molek di dadanya dan ikut bergoyang-goyang
mengimbangi guncangan tubuhnya sedang dilumat oleh Pratiwi. Puting susunya yang
menjulang itu tengah diisap-isap oleh temannya, semakin membuat Alfa
mendesah-desah hebat.
Sementara di bagian bawah, saya masih mempermainkan penis
saya terus-menerus di dalam vaginanya, membuat Alfa kehilangan keseimbangan.
Tubuhnya yang putih dan mulus jatuh menindih tubuh Pratiwi yang ada di
bawahnya. Namun ini tidak menghentikan permainan kita. "uuh.., Kak.., Saya
sudah mau keluar.., Mau.., di dalam.., atau.., di luar..?", Saya merasakan
sudah tidak mampu lagi menahan gejolak yang ada di burun saya. "hh.., Di
dalam aja.., Ouhh..", jawab Alfa sambil terus menggerinjal. Akhirnya
permainan kita usai sudah, diakhiri dengan ditembakkannya lagi cairan-cairan
kental berwarna putih dari penis saya ke dalam vagina Alfa. Saya dengan penis
masih berada di dalam vagina Alfa terkulai lemas di samping tubuh cewek itu
yang dengan lemas masih menindih tubuh Pratiwi yang kelihatannya kurang puas.
"Kamu masih punya hutang lho sama gue", kata Pratiwi mengingatkan
saya. Saya tidak menjawab, hanya mengangguk saja. Lima menit lamanya kami
terdiam. Setelah itu kami bangkit dan membereskan pakaian kami kembali,
bersamaan dengan selesainya acara briefing malam itu. Dengan mengendap-endap
setelah menengok ke sekeliling terlebih dahulu kami bertiga keluar dari tempat
persembunyian kami, kemudian dengan perasaan sepertinya tidak pernah terjadi
apa-apa, kami kembali ke tenda kami masing-masing untuk bergabung dengan
teman-teman lainnya. "Eh, kamu tadi ngapain bertiga sama Kak Tiwi dan Kak
Alfa?", tanya salah seorang teman saya satu tenda. Saya hanya tersenyum penuh
arti. TAMAT.


0 comments:
Post a Comment